Rakyat Jerman larut dalam sukacita merayakan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin. Puluhan kepala negara, terutama dari Uni Eropa dan Rusia, Senin lalu (9/11) berkumpul di Brandenburg Gate, bangunan yang menjadi saksi sejarah terpisahnya kota Berlin Barat dan Berlin Timur selama 28 tahun.
Bagi kita, runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989 bukan sekadar penanda berakhirnya era Perang Dingin. Itu adalah simbol kemenangan kemanusiaan. Saat tembok tersebut kukuh berdiri, 136 orang tewas setelah mencoba menerobos. Mereka adalah orang-orang yang nekat karena ingin mendapatkan kebebasan, mencari kualitas penghidupan yang lebih baik, atau sekadar kangen ingin bertemu kerabat yang bertahun-tahun terpisah jauh.

Tembok dengan tinggi rata-rata 3,6 meter dan membelah Berlin sepanjang 155 kilometer itu bukan sekadar pemisah secara fisik. Sebab, rezim yang berkuasa melarang warga Berlin Timur -secara umum juga Jerman Timur- bepergian ke wilayah Barat.

Jerman memang telah bersatu kembali dengan Berlin yang utuh menjadi ibu kotanya. Dampak tembok pemisah itu memang berat. Gelontoran triliunan uang dari wilayah Barat yang kaya tetap tak bisa menyelesaikan persoalan yang timbul. Buktinya, meski sudah 20 tahun berlalu, masih ada kesenjangan yang lebar antara wilayah Barat yang maju dan Timur yang terbelakang.

Runtuhnya Tembok Berlin mestinya menjadi pengingat bahwa setelah itu tidak boleh lagi ada tembok-tembok pemisah yang lain. Pesan inilah yang, tampaknya, belum kita tangkap dalam perayaan besar-bersaran di ibu kota Jerman lalu. Buktinya, saat para kepala negara berkumpul di Brandenburg Gate lalu, tak seorang pun bersuara tentang tembok pemisah lain yang hingga kini masih berdiri kukuh. Tembok itu tak kalah “kejam” jika dibandingkan dengan Tembok Berlin. Yaitu, tembok yang dibangun Israel di tanah pendudukan Palestina.

Tembok yang dibangun Israel di tanah Pelestina tersebut bukan hanya masih kukuh berdiri, tapi justru terus diperluas. Dari sisi fisik, bangunan tembok yang mengambil banyak lahan milik warga Palestina itu lebih “megah”. Ketinggian maksimum delapan meter dengan total panjang 650 kilometer.

Lebih parah daripada di Berlin, tembok itu tidak hanya memisahkan kota, tapi juga menceraiberaikan desa, kampung, keluarga, serta himpunan komunitas sehingga sekitar separo penduduk Tepi Barat yang sudah menderita menjadi lebih menderita. Akibat adanya tembok itu, mereka harus jalan memutar untuk bersekolah, berniaga, atau menjenguk kerabatnya di kampung halamannya sendiri.

Di Berlin, tembok itu dibangun untuk memisahkan sistem atau ideologi yang berbeda di Barat dan Timur. Namun, di tanah Palestina, Israel membangunnya sebagai tembok apartheid. Yakni, untuk melindungi kepentingan para pemukim Yahudi dari warga Arab-Palestina di tanah Palestina yang dicaploknya.

Kita tidak tahu sampai kapan tembok apartheid di Tepi Barat itu akan berdiri. Dulu, Presiden AS Ronald Reagan-lah yang lantang menentang Tembok Berlin. Bahkan, saat datang ke Jerman, secara simbolis dia menggedor-gedor Tembok Berlin dengan mengatakan, “Ayo, Gorbachev (Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev) runtuhkan tembok ini”. Kini, beranikah Presiden Barack Obama melakukan hal serupa di Tepi Barat?

Sumber : Jawa Pos ( Gagasan ) Rabu, 11 November 2009